Sejarah GKIM Jemaat Sumber Sari Indah

Ketika daerah Perumahan Sumber Sari Indah Bandung sedang dipasarkan akan dibangun pada tahun 1983, tergeraklah Ibu Limiati Chondro dan Ibu Maria Listiani. Mereka mengemukakan visi pada GKIm Ka Im Tong Bandung agar di daerah Perumahan Sumber Sari Indah dapat didirikan sebuah gereja, khususnya karena di daerah ini banyak yang belum mengenal Tuhan Yesus. Maka dengan dipelopori oleh Ev. Ruth Wang dan Ev. Lily Soewandi dimulailah pelayanan Pos Sekolah Minggu dengan meminjam tempat di rumah Bapak Charlie Nagar di Jl. Sumber Sugih No. 21 pada tanggal 9 September 1984 dengan kehadiran sebanyak 18 anak.

Setelah mengundang Ev. Daud Tjung (sekarang pendeta) untuk melayani secara penuh waktu, maka pada tanggal 4 Mei 1986 pukul 09.00 dimulailah kebaktian umum yang pertama dengan dihadiri oleh 22 orang. Dengan adanya Hamba Tuhan maka pelayanan mengalami kemajuan pesat. Oleh karena itu, maka pada bulan Mei 1988 dari status Pos PI ditingkatkan menjadi Cabang Gereja. Jumlah kehadiran untuk kebaktian umum pada waktu itu juga telah meningkat menjadi 60 orang. Sedangkan kehadiran anak-anak pada kebaktian Sekolah Minggu telah meningkat menjadi 120 orang.

Pada tanggal 24 Mei 1990, dari status cabang ditingkatkan lagi menjadi Bakal Jemaat. Pada bulan Juli, Ibu Limiati Chondro telah digerakkan oleh Tuhan untuk mempersembahkan sebidang tanah kosong sebagai persiapan pembangunan gedung Gereja, yaitu di Jl. Sumber Sugih No. 17.

Dengan adanya prospek yang baik, maka pada Kebaktian Umum tanggal 6 Mei 1993 Bajem Sumber Sari Indah didewasakan menjadi Gereja yang mandiri, disebut sebagai GKIm Sumber Sari Indah Bandung. Pada saat yang sama Ev. Daud Tjung juga ditahbiskan sebagai pendeta, bertempat di Sekolah Kristen Bina Bakti. Beliau bersama istrinya, Ev. Priscilla, melayani hingga tahun 1997.

Karena adanya kebutuhan akan pastori, maka pada tahun 2000 di tanah kosong yang sedianya akan dibangun gedung Gereja, terlebih dahulu dibangun pastori di bagian depan, sedangkan tanah di bagian belakang untuk persiapan pembangunan Gereja. Bagian bawah pastori terdapat sebuah aula kecil untuk kebaktian remaja, dua ruang untuk perkantoran, dan sebuah kamar tamu. Bagian belakang pastori yang masih berupa tanah kosong diusahakan untuk dibangun rumah ibadah.

Sebenarnya semenjak dimulainya kebaktian, pengurus telah dua kali mengusahakan untuk memperoleh izin pembangunan, namun mungkin belum waktunya Tuhan. Sekalipun selama ini Jemaat masih beribadah dengan tenang di Jl. Sumber Sugih No. 21-23, namun secara kuantitas dan kualitas mengalami banyak hambatan untuk berkembang. Ruangan-ruangan yang ada telah dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan Sekolah Minggu, yang sebenarnya sangat sempit dan tidak memadai untuk aktivitas orang banyak. Pada waktu yang bersamaan dalam dua rumah tersebut harus menampung aktivitas Kebaktian Umum sebanyak 65 orang, Kebaktian Remaja 40 orang dan Sekolah Minggu 150 orang. Jadi jumlah kehadiran di Minggu pagi lebih dari 255 orang.

Pada tahun 2000 untuk ketiga kalinya panitia pembangunan mengajukan permohonan IMB. Puji Tuhan, penggenapan visi tersebut menjadi nyata. Tuhan mengizinkan pembangunan pastori terlebih dahulu di tanah kosong No. 17a. Sebenarnya bagian belakang pastori yang masih berupa tanah kosong diusahakan untuk dibangun rumah ibadah yaitu gedung Gereja, namun yang Tuhan izinkan adalak No. 21-23 untuk dijadikan gereja-Nya.

Pada tahun tanggal 16 September 2002 izin pembangunan gedung Gereja diperoleh. Tuhan yang memulai visi-Nya Dia pula yang menggenapkan visi tersebut. Hingga selesainya pembangunan dari 12 Januari 2003 – 23 Februari 2004. Di tanggal 23 Februari 2004 tersebut berlangsunglah Kebaktian Peresmian Gedung Gereja dan Penahbisan Ev. Yusman Liong menjadi pendeta.

Dengan adanya gedung Gereja yang baru serta kerjasama yang baik antara Majelis, Hamba Tuhan dan para pengurus komisi, maka GKIm Sumber Sari Indah Bandung terus mengalami kemajuan dalam kualitas dan kuantitas. Anak Sekolah Minggu telah meningkat menjadi 175 orang, Tunas Remaja antara 50-60 anak, Remaja 60 orang, sedangkan Kebaktian Umum I 170 orang dan Kebaktian Umum II 130 orang.

Gedung Gereja yang tadinya dibangun dengan asumsi lebih dari cukup ternyata hari ini dan untuk beberapa tahun ke depan sudah tidak akan memadai lagi. Sejarah juga yang nantinya akan membuktikan bahwa Injil yang diberitakan tidak akan kembali dengan sia-sia. Segala Puji hormat dan kemuliaan bagi Tuhan Yesus Kristus,  Sang Kepala Gereja. Amin.

About the author: SinodeGKIm